• Kota Malang sejak masa kolonial sudah dikenal sebagai tempat peristirahatan dan tujuan wisata bangsa Eropa terutama dari Negeri Belanda.

  • Monumen Suro dan Boyo adalah salah satu monumen yang ada di Kota Surabaya – Jawa Timur. Dengan bentuknya yang cukup unik dan khas berupa satwa ikan Sura ( Hiu ) dan Buaya, monument ini menjadi land mark yang sangat popular di Surabaya.

  • Jembatan Nasional Suramadu adalah jembatan yang melintasi Selat Madura, menghubungkan Pulau Jawa (di Surabaya) dan Pulau Madura (di Bangkalan, tepatnya timur Kamal), Indonesia. Dengan panjang 5.438 m, jembatan ini merupakan jembatan terpanjang di Indonesia saat ini.

  • Karapan sapi merupakan istilah untuk menyebut perlombaan pacuan sapi yang berasal dari Pulau Madura, Jawa Timur. Pada perlombaan ini, sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain.

Minggu, 24 Februari 2013


 Pantai Talang Siring ini terletak di Desa Montok Kecamatan Larangan,Kabupaten Pamekasan. Berjarak sekitar 14 Km arah timur dari Kota Pamekasan dan dapat ditempuh dengan mobil angkutan umum. Lokasi wisata ini selalu ramai dikunjungi wisatawan karena letaknya berdekatan dengan jalan lintas jurusan Kalianget - Kamal.
Pantai ini merupakan pantai yang masih alami dengan keindahan laut yang masih belum dimanfaatkan betul oleh pemerintah setempat, sangat cocok untuk berekreasi keluarga
 
Obyek wisata Pantai Batu Kerbuy terletak di Desa Batu Kerbuy Kecamatan Pasean dengan luas areal sekitar 5 ha, berjarak ±45 Km arah utara dari Kota Pamekasan, obyek wisata ini sangat mudah dijangkau karena posisinya berdekatan dengan jalan raya pantura jurusan Bangkalan – Sumenep. Keindahan alam pantainya yang menarik dengan pantai berpasir putih dan berombak yang cukup besar sangat cocok untuk kegaiatan olahraga selancar air (surfing).

Nama Batu Kerbuy diambil dari sebuah batu yang menyerupai Kerbau, terletak sekitar 8 Km dari lokasi pantai yaitu di lokasi perbukitan. Menurut legenda batu tersebut berasal dari manusia yang disabda menjadi hewan Kerbau. Atraksi wisata yang biasa diadakan dipantai ini adalah uapacara Petik Laut yang diselenggarakan antara bulan September dan Oktober, sebelum musim hujan yang berlangsung pada siang hari antara jam 14.00 – 17.00, pada malam harinya diadakan pertunjukan wayang topeng semalam suntuk, serta upacara ritual menitik air rendaman yang diperuntukkan dan diyakini masyarakat mendapat syafaat Nabi Khidir.

Sabtu, 23 Februari 2013


 Sebuah areal Pemakaman raja-raja Sumenep yang terletak di atas bukit tepatnya di daerah desa Kebonagung kecamatan kota dan berdiri sejak abad XVI masehi. Asta Tinggi sendiri bukan hanya sebuah komplek makam kerajaan tetapi juga sebuah simbol kejayaan Sumenep masa lampau dan lebih dari itu Asta tinggi merupakan cerminan cita rasa seni yang tinggi dari masyarakat di sana.
Asta tinggi sendiri menurut arti Etimologi adalah makam yang tinggi. Itu berdasar dari letak makam yang berada di puncak bukit dan penamaan Asta Tinggi sebenarnya hanya untuk mempermudah penyebutan saja. Di Asta Tinggi sendiri bukan hanya terdapat makam dari raja namun juga makam dari keluarga -keluarga raja, sentana, dan punggawa sejak abad XVI. Dari banyak sumber sejarah mengatakan bahwa Asta Tinggi memiliki nilai kekeramatan yang tinggi. Meskipun dulu mempunyai mitos keangkeran dan daya mistis yang tinggi sekarang hal tersebut seperti sudah lenyap karena sudah banyak orang yang berziarah. Orang banyak berziarah kesini karena raja-raja sumenep juga dikenal karena kewaliannya karena perduli terhadap perkembangan Islam di daerah Sumenep dan sekitarnya.
Makam pertama yang ada di Asta Tinggi adalah makam dari R.Mas Pangeran Anggadipa yang merupakan seorang adipati. Makam perempuan di samping beliau adalah makam dari istri beliau yang bernama R.Ayu Mas Ireng, R.Ayu Mas Ireng sendiri adalah putri dari Panembahan Lemah Duwur. Dulu pada awalnya Asta Tinggi tidak memiliki pagar hanya rimba belantara dan batuan terjal. Untuk menghormati Pangeran Anggadipa dan istrinya Pangeran Rama yang ketika itu menjabat sebagai adipati sumenep membangun pagar hanya dengan batu-batu yang disusun rapi. Asta Tinggi sendiri memiliki dua bagian dimana bagian barat memiliki corak jawa. Di bagian timur sendiri lebih didominasi oleh corak Cina, Eropa, Arab dan Jawa. Pembangunannya sendiri berlanjut dari masa pemerintahan Panembahan Notokusumo I Asirudin dan Sultan Abdur Rahman yang tidak lain dan tidak bukan adalah putranya, dan masih berlanjut lagi di masa pemerintahan Panembahan Moh.Saleh.
Berikut adalah daftar makam yang berada di Asta Tinggi
-Bangunan Barat
  • Kubah 1
  1. R.Ayu Mas Ireng
  2. Pangeran Anggadipa
  3. Pangeran Wirosari atau Pangeran Seppo
  4. Pangeran Rama
  5. R. Ayu Artak (Istri Pangeran Panji Polang Jiwa)
  6. Pangeran Panji Polang Jiwa (R. Kaskiyan)
  • Kubah 2
  1. Ratu Ari
  2. Pangeran Jimat (R. Ahmad)
  3. R. Aria Wironegoro
  • Kubah 3
  1. R. Bendara Moh. Saud
  2. R. Ayu Dewi Rasmana
  3. dan lain-lain
-Bangunan Timur
  • Kubah 1
  1. Panembahan Notokusumo I Asiruddin
  2. Sultan Abdur Rahman
  3. Panembahan Moh. Saleh
  4. dan lain-lain
Untuk penjaganya sendiri pada jaman dahulu merupakan seorang prajurit kerajaan yang dibayar dengan tanah untuk dikelolanya sendiri. Jika penjaga tersebut sudah tidak efektif maka akan digantikan oleh keturunannya dalam menjaga Asta Tinggi ini terdapat 8 kelompok yang diketuai oleh “loloran” dan wakilnya disebut “Kabajen”. Pada saat ini penentuan penjaganya sudah diatur oleh pemerintah dan sudah terdapat juga sebuah yayasan yang bernama YAPASTI (Yayasan Penjaga Asta Tinggi) tujuan dari dibentuknya yayasan ini untuk meningkatkan kinerja penjaga Asta Tinggi yang professional dan berkualitas.
Nilai filosofis Asta Tinggi:
Asta Tinggi, adalah tempat dari akhir perjalanan kehidupan manusia, setelah beberapa saat lamanya menjalankan tugas yang masing-masing kita adalah pemimpin. Dan semuanya akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah SWT.

sumber: Lintasan Sejarah Sumenep dan Asta Tinggi Beserta Tokoh di Dalamnya -Bindara Akhmad


Pantai Lombang adalah pantai dengan hamparan pasir putih dan gugusan tanaman cemara udang yang tumbuh di areal tepi pantai. Suasananya sangat teduh dan indah sekali. pantai Lombang adalah satu-satunya pantai di Indonesia yang ditumbuhi pohon cemara udang.

Pantai Lombang ini berada sekitar 30 Km arah utara dari Kota Sumenep. Jalan untuk mengakses menuju lokasi sangat mudah, bisa menggunakan mobil atau sepeda motor. Untuk masuk ke lokasi pantai, akan dikenakan biaya karcis sebesar Rp 3.000,- saja.

Jumat, 22 Februari 2013

Api Tak Kunjung Padam, Pamekasan – Madura merupakan sebuah Pulau kecil nan terpencil didaerah timur laut Pulau Jawa. namun jangan salah, Madura merupakan sebuah Pulau yang kaya akan kebudayaan, adat istiadat dan keanekaragaman alamnya. Selain Karapan Sapi, masih banyak keunikan yang terdapat di Madura namun belum di eksplorasi dan dikembangkan oleh pemerintah setempat. bahkan semua sumber daya ini terlihat di acuhkan. Salah satunya adalah tempat-tempat wisata di Madura yang kurang terawat. padahal itu semua merupakan asett yang paling berharga untuk mengenalkan Madura pada dunia. Artikel ini merupakan saduran dari artikel penulis di tentangmadura.com.

Api tak kunjung padam, sebuah sebuah tempat wisata yang begitu menakjubkan terdapat di Pulau Madura bagian timur ini, tepatnya terletak di desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan Kabupaten Pamekasan yang berjarak 4 km kearah selatan dari kota pamekasan. Jengkah begitu masyarakat setempat menyebut tempat wisata ini. tempat ini sangat unik karena wisata alam seperti ini hanya ada 2 di Indonesia. tempat wisata yang biasa disebut sebagai api tak kunjung padam ini merupakan sebuah wisata alam yang masih alami, sebuah wisata yang boleh dibilang hot (panas) karena wisata ini berkaitan dengan pesona pemandangan api yang tak pernah mati (abadi).

Api tak kunjung padam ini merupakan api abadi yang tidak pernah padam meski diguyur hujan lebat sekalipun. bukan berarti api ini akan tetap hidup di waktu hujan, melainkan mati apabila hujan dan akan menyala kembali setelah hujan berhenti. Nyala api tak kunjung padam ini berada di dalam lingkaran pagar, jadi warga sekitar tidak perlu takut api ini akan menjalar ke rumah mereka. jika tanah disekitar titik api ini digali maka akan timbul nyala api yang besar berwarna biru seperti pada kompor gas dan bertekanan udara.
Pemilik kawasan wisata Api tak kunjung padam ini adalah bapak H.Ali. menurut beliau tanah ini adalah warisan turun temurun keluarganya. banyak mitos yang menceritakan asal mula terbentuknya api tak kunjung padam ini. menurut cerita rakyat disana, kenapa daerah tersebut dapat memancarkan nyala api yang tak pernah mati adalah berawal dari seorang pemuda bernama Hadagi yang belajar agama islam. dan kemudian ia menyebarkan ajaran islam didesa larangan tokol tersebut. karena kepandaiannya ia memperoleh julukan “Ki Moko” dari warga sekitar. suatu ketika Ki Moko ingin mempersunting seorang putri Palembang dengan mas kawin berupa mata ikan yang ia dapatkan di sungai timur. ikan itu sejenis lele yang kata orang Madura disebut dengan juko’ ketteng (Bahasa madura). kemudian mata ikan itu dibawa untuk dipersembahkan kepada putri palembang sebagai mas kawinnya. peristiwa ajaib pun terjadi, mata ikan itu berubah menjadi mutiara.

Kemudian pesta pernikahan pun dilangsungkan tepat di bawah pohon Palembang, karena keadaan yang gelap, maka Ki Moko menancapkan tongkatnya ke tanah. Peristiwa ajaib pun kembali terjadi. seketika itu muncullah api dari bekas tancapan tongkat tadi. dan titik api itulah yang hingga kini masih terus menyala dan dinamakan dengan api tak kunjung padam.

Usut punya usut ternyata tanah dikawasan itu mengandung belerang yang kemudian bergesekan dengan O2, maka terjadilah fenomena api menyala yang tak kunjung padam itu. Sebenarnya terdapat dua tempat dimana api abadi itu menyala dan masih dalam satu kawasan yang berdekatan. yang pertama berada ditempat yang biasa dikunjungi para wisatawan, baik lokal maupun asing dan disebut dengan Apoy Lake (Api laki-laki). Satunya berada tepat didekat pintu masuk (di tengah sawah) yang biasa disebut dengan Apoy Bine’ (Api wanita). selain itu kawasan itu juga terdapat sumber air yang mengandung belerang, konon katanya bisa menyembuhkan berbagai jenis penyakit kulit. tapi sekarang sumber air itu sudah tidak ada lagi karena pipanya macet.

Tempat wisata ini buka 24 jam penuh apalagi karcis masuknya sangat murah yaitu Rp 1500 untuk kendaraan roda dua dan Rp5000 untuk mobil. Karena kawasan wisata tersebut sangat indah apabila dinikmati malam hari maka daerah itu sering dijadikan sebagai tempat perkemahan. Pada Tahun 2006 lalu kawasan wisata ini dijadikan tempat Jambore Pramuka se-Jatim. selain itu tempat ini merupakan salah satu tempat romantis bagi kaum muda-mudi yang ingin berkunjung kesana dengan orang spesial.

Namun semuanya kini beralih fungsi, Api tak kunjung padam bukan lagi sebuah tempat wisata alami dengan keunikan alamnya berupa tanah yang terus-menerus mengeluarkan nyala api yang indah. Kini tempat wisata api tak kunjung padam ini lebih mirip perkampungan kumuh yang sesak dengan warga dan peralatan-peralatan rumah tangganya. Maya salah seorang pengunjung asal Surabaya, mengaku sangat menyayangkan keberadaan tempat wisata di Pamekasan ini. Ia berharap, pemerintah setempat mau segera melakukan penanganan serius terhadap tempat wisata yang sebenarnya cukup unik tersebut.
Pemerintah Setempat seakan tidak tahu menahu dengan potensi dan aset yang sangat besar ini. padahal apabila tempat-tempat wisata di Madura khususnya Pamekasan ini di perhatikan dan lebih diseriusi dalam pengelolaannya akan menjadi sebuah aset besar untuk mempromosikan Madura dan daerahnya kepada dunia dan masyarakat luas. semoga dengan adanya artikel ini ada aparatur pemerintah yang mau meluangkan waktunya untuk memperjuangkan dan memperhatikan aset-aset wisata di daerah Pamekasan.
Kalau bukan kita siapa lagi yang peduli kepada Madura serta kebudayaan dan keunikan didalamnya. Api tak kunjung padam Save Our Madura :-)